Sabtu, 07 Agustus 2010

Selamat Tinggal Sobat

DINDA

Hari ini hari yang indah dan aku sangat bersyukur aku masih bisa merasakan keindahan dunia hari ini. Karena aku akan selalu dan selalu mensyukuri kehidupanku setiap detiknya. Aku memang anak yatim piatu orang tuaku meningggal saat aku masih umur 7 tahun karena kecelakaan, tapi aku bersyukur aku masih punya pacar dan sahabat yang sangat sayang dan perhatian denganku.

“dinda, kamu udah siap?”

“Iya, bentar lagi” tadi namanya Tania, dia sahabatku yang paling aku sayang, dia yang selama ini Bantu aku kalo aku lagi susah.

“yuk berangkat”

“OK”

Kami berdua pergi ke kampus dengan naik angkot, sadar kalo kita bukan anak orang kaya yang kalo pergi tinggal stop taxi, kita juga bukan cewek bau bensin yang kalo mau pergi minta pacar anterin.

Di kampus aku ketemu sama Restu, dia pacar aku sejak 2 tahun yang lalu. Dia selalu nawarin aku buat berangkat bareng tapi aku selalu aja nolak karena aku nggak mau di bilang manfaatin dia.

Restu itu anak pemilik yayasan panti asuhan tempatku tinggal, orang tuanya yang membiayai hidupku dan sekolahku sampe sekarang, jadi aku tak mau merepotkannya lagi, walaupun restu selalu bilang dia nggak repot.

“dinda, kamu pulang jam berapa?”

“nggak tau jam berapa tapi aku ada kuliah siang, kenapa?”

“pulang bareng ya, aku tunggu di depan” jawab restu sambil pergi ke kantin, aku sering nggak ngerti sama restu, dia emang baik sama semua orang, tapi aku suka bingung sama restu, restu itu beneran sayang ato Cuma kasihan sama aku?

Kuliah terakhir udah selesai, tiba tiba aku teringat kata kata restu tadi pagi, apa dia bener bener nunggu aku ya? kadang kadang restu itu suka keras kepala. Lebih baik aku memang harus cepat cepat keluar kelas.Tapi tiba tiba semuanya gelap dan aku tak tau apa apa lagi.

Saat aku terbangun aku langsung tau aku berada di mana, aku mendengar sayup sayup suara dari luar dan tak mungkin aku tak mengenal suara itu, aku sudah mengenal suara itu selama bertahun tahun, tapi aku tak tau dia bicara apa dan dengan siapa.

“Dinda kamu udah sadar?”

“aku dimana, restu?”

“kamu di rumah sakit, tadi kamu pingsan, kamu bikin aku khawatir aja”

“maaf restu, mungkin aku Cuma kecapean aja, ayo pulang sekarang”

“ga bisa, kamu harus dirawat dulu”

“ga usah aku udah nggak papa kok”

“dinda, kamu lagi sakit”

“restu, aku tau kondisi aku sendiri, ayo kita pulang” restu tak bisa menahanku lagi, akhirnya restu mengijinkan ku pulang. Aku tak ingin restu tau keadaanku yang sebenarnya.

1 bulan yang lalu

Sekarang aku berada di ruang tunggu rumah sakit, ya aku memang tidak salah tempat karena aku memang ingin tau apa yang terjadi dengan diriku, Hari ini aku sengaja berangkat sendiri, tiara juga kebetulan kuliah siang, sebenernya restu sempet nawarin buat bareng tapi aku nggak mau.

“nona dinda”

“iya” aku masuk ke ruang dokter aku sudah tak sabar ingin tau hasilnya

“gimana dok hasilnya?”

Dokter itu sempet terdiam beberapa saat sampai akhirnya dokter itu berkata “anda menderita leukemia” aku hampir tak percaya dengan semua kenyataan yang ada di hadapanku, ini semua begitu tiba tiba dan aku tak tau lagi harus bagaimana, dan aku hanya ingin semua orang tak ada yang tau terutama restu

“dok tolong rahasiakan hal ini dari semuanya terutama pada restu, aku mohon dok” asal kamu tau aja rumah sakit ini milik ayah restu, ayah restu juga salah satu doter di rumah sakit ini.

Sehari setelah kejadian pingsan di kampus aku telah bertekad untuk keluar dari yayasan panti asuhan milik ayah restu, aku tak ingin membebani mereka lebih lama lagi. Terlebih kalo mereka tau tentang penyakitku.

Tania memanggil restu dan memberikan selembar surat yang sempat aku tinggalkan tadi pagi. Mereka membacanya dan tiba tiba tangis pecah di antara mereka berdua. “maaf’in aku restu, Tania semoga kalian bisa melepaskan aku” dan mulai sekarang aku benar benar pergi dari yayasan itu, selamat tinggal semuanya terima kasih atas semua kenangan manis yang kalian berikan kepadaku.

Aku tak tau harus pergi kemana, aku berjalan menyusuri jalan di hadapanku tapi tiba tba semuanya berubah menjadi samara dan tiba tiba gelap dan aku tak tau lagi apa yang terjadi selanjutnya.

Saat aku membuka mata aku sudah berada dalam sebuah kamar tapi aku tak tau ini dimana, aku ingin bangun tapi ternyata badanku tak bisa di ajak kompromi.

“kalo masih sakit tidur aja lagi” suara itu, aku kenal dengan suara itu, suara yang sangat familier dalam hidupku, kemudian aku melihat ke arah pintu ada seorang yang sedang membawa sejumlah obat ke arahku.

“Kevin” ya itu Kevin sahabatku dan sekaligus sahabat restu dan tiara sejak kecil karena kita masih dalam lingkungan bermain yang sama. tapi tak tau dia udah pulang dari amerika.

“napa?kaget aku udah balik?”

“…”

“nggak usah sampe sebegitunya kale lihat gw, mentang mentang gw cakep” Kevin dari dulu emang ga berubah. “ni minum dulu obatnya” Kevin ngasih obat yang sama persis dengan obat yang biasa aku minum, aku tau Kevin walau wajahnya seneng tapi sebenernya jauh dalam hatinya dia sedih.

“aku yakin orang tuamu sudah cerita semuanya, jadi kamu nggak usah berlagak seneng di depanku”

“aku Cuma ga suka sama sikap kamu yang menjauh dari orang orang yang sayang sama kamu”

“aku Cuma ga mau buat mereka semua sedih lihat aku yang semakin hari semakin mendekati kematianku”

“DINDA, kamu ngomong apa sich? Dengan gini kamu pikir kamu nggak nyakitin mereka? Justru kamu sudah sangat nyakitin mereka semua dinda, kamu nggak mikir sakitnya restu, Tania, dan semua orang yang sayang kamu, dinda?”

Aku nggak bisa berkata kata lagi, air mataku sudah tumpah membasahi wajahku, aku tak tau harus bagaimana lagi menghadapi kenyataan yang sangat menyakitkan ini, aku hanya tak ingin menyakiti mereka semua.

***

Genap seminggu sudah aku tinggal di rumah Kevin, dan tak pernah sekalipun mereka memperlakukan aku sebagai orang sakit, walau terkadang mereka masih memaksa aku untuk di rawat di rumah sakit tapi aku tak menginginkan itu, aku hanya ingin semua kebersamaan ini. Dan seminggu pula aku meninggalkan semua kenangan masa kecilku, tania, dan restu.

“Dinda” suara itu, suara yang seminggu ini selalu memenuhi hari hariku terakhir di dunia ini.

“masih ingetkan sama tempat ini”

“pastilah, aku nggak bakalan bisa lupa sama tempat ini” Kevin sengaja mengajak aku ke bukit tempat kita dulu sering bermain, tempat yang sangat banyak menyimpan kenangan buat aku, Kevin, Tania dan restu.

“tau nggak selama aku di amerika, aku kangen bangen sama tempat ini, tiap hari aku nangis minta minta pulang, dan aku punya satu impian kalo aku bisa balik ke tempat ini”

“impian?”

“ya impian, dan aku pengen impian aku terwujud?”

“ impian apa?

“gampang kok, aku Cuma pengen kenangan kita semasa kecil terulang lagi”

“hah? Maksudnya?”

“ya, kita berempat, aku, kamu, Tania dan pastinya ada restu.”aku hanya bisa diam mendengar semua impian Kevin yang terdengar mudah tapi susah aku wujudkan” Aku pengen kita berempat kembali ke bukit ini lagi dan mengulang masa indah dan bahagia kita dulu”

***

TANIA

Sementara di tempat lain Tania dan restu lagi siap siap mau pergi ke suatu tempat,

“pangeran lo kebiasaan ya, suka nggak bisa di tebak”

“ya namanya juga pangeran aku, tapi tau aja ya dia, sebenernya aku juga kangen banget sama tempat itu”

“bener juga si, udah berapa tahun ya kita nggak ke sana?”

“may be sejak kita lulus SD”

“wow, lama juga ya?”

Aku Cuma senyum aja sambil terus jalan ke tempat aku janjian.

***

DINDA

Tiba tiba semuanya terasa kabur, dan aku tiba tiba terjatuh tapi untung Kevin cepat menangkap aku.

“dinda, kamu sakit lagi”

“aku nggak apa apa kok”Kevin kemudian mendudukkan aku

“kamu masih kuat dinda?”

Aku hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan Kevin, samar samar aku mendengar suara lain dari arah belakang tapi suara itu tampaknya tak asing lagi buat aku, aku sangat mengenal suara itu.

“mana si pangeran lo hah?”

“ya udahlah, cari dulu napa si”

Suara itu, Suara itu apa benar itu dia? Tapi itu nggak mungkin dari mana dia tau aku di sini? Kevin? Nggak mungkin Kevin yang bilang, diakan udah janji.

“Dinda, aku tinggal bentar ya?

Kevin pergi apa benar dia yang…tapi nggak mungkin, suara itu semakin dekat, nggak, mungkin aku hanya mimpi.

“DINDA” suara itu, aku kemudian berbalik mencari asal suara itu dan yang aku dapat adalah dia.

“RESTU” sesaat kemudian restu tiba tiba memelukku, sementara aku hanya diam dan keget dengan kejadian yang begitu cepat.

Keheningan tercipta di antara kami berempat, dan tak ada yang berani merusaknya, sementara otakku masih berusaha mencerna semua kejadian ini.

Sampai akhirnya Kevinlah yang membuka pembicaraan “hmmmm akhirnya kita bisa kumpul lagi di sini, saat saat yang nggak bakalan bisa terulang lagi”

Kita berempat berdiri berjajar memandang luasnya alam yang membentang tanpa ujung, andai aku bisa menhentikan waktu aku akan menhentikan saat ini juga, aku ingin saat terakhir ini abadi selamanya dan menjadi kenangan terindah bagi kalian sahabatku dan juga kekasihku. Tuhan terima kasih engkau telah memberikan aku waktu untuk bersama sahabatku dan kekasihku untuk yang terakhir kalinya.

***

“dinda, bangun dinda” Restu panic melihatku terbaring tak sadarkan diri di ranjang pasien. Sementara para dokter sedang berusaha menyelamatkan aku dari penyakitku yang mulai parah.

Restu, Kevin, Tania terlihat cemas menunggu di luar. Tak lama kemudian ayah Kevin keluar dari ruangan.

Om, gimana dinda om? dia selamatkan om? Om kenapa diem aja om?”

“Restu, Kevin, Tania, para dokter sudah berusaha tapi maaf dinda telah pergi, kalian harus ikhlas merelakan dinda pergi”

***

Restu, Kevin dan Tania berada di pemakamanku

“Dinda, kami telah penuhin janji kita buat nggak nangis, jadi kau harus pergi dengan tanang”

“Dinda, terima kasih atas semua kenangan yang kamu beri untuk kami, semoga kau bahagia di sisi-NYA”

“Dinda, mungkin kita takkan pernah bersama lagi, tapi kamu tetap ada di hati kami, kau adalah sahabat terbaik kami, selamat jalan Dinda”

TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar